JAKARTA: TOUR DE BUILDING

Jogja, 9 Juni 2010

JAKARTA: TOUR DE BUILDING

Kalo disuruh jalan-jalan gratis, ya mungkin jalan-jaan ke Jakarta hal yang paling saya ingin hindari. Udah 3 kali saya ke Jakarta, pertama saya anggap sebagai suatu kecelakaan karena terpenjara di dalam rumah hem …malas sy bahas! Kedua karena studi banding ke LIPi dan Balitbang dan terakhir karena harus ngurus visa and medical check up. Tanggal 28 Mei saya harus sudah stay di wisma PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia) di Jaksel sebelum medical check up dan mengurus visa. Jauh-jauh dari Jogja ke Jakarta hanya untuk urusin semua dokumen itu. Males bangetkan? Makanya, 2 hari sebelumnya saya dan kawan-kawan Global Xchange sengaja datang ke Jakarta sebelum jadwalnya dengan resiko menginap di tempat teman dahulu. Karena weekend, harga tiket melambung. Untung aja semuanya dibayarin. Pengalaman pertama naik kereta eksekutif lagi. Pas itu saya naik Taksaka Pagi. E…e saya kirain aja dapat makanan di kereta. Ternyata tidak sama sekali! Coba aja kalo perjalanan ini biaya sendiri, tentunya saya lebih milih naik kereta ekonomi dengan budget jauh lebih murah. Toh, sensasi bacpackernya akan terasa di sini. It’s the art of travelling . Masalah kenyamanan ya jangan ditanya, eksekutif pemenangnya. Kursi bisa diputar sampai-sampai kami semua berhadapan satu sama lain sambil baca buku dan main kartu. Jam 10 pagi berangkat,nyampe di stasiun Gambir jam 5.30 sore sesuai dengan jadwal. Tapi, jangan percaya dengan label eksekutif karena sering terjadi keterlambatan juga!

Singgahlah saya di rumah keluarga di Jaktim menginap dua malam sebelum masuk wisma. Esoknya main-main ke Dufan tempat yang baru pertama kali saya sambangi. Gila! Seharian main-main di dalamnya baru bisa nyoba 3 wahana. Ya terang aja karena harga tiket kala itu setengah harga menjadi Rp75.000. Dufan bak lautan manusia. Yang bikin saya makin frustasi di sana karena antrean layaknya ular naga panjang, dan saya ngerasa hampir mati di atas wahana halilintar alias rollcoster. Beribu mantra saya baca biar selamat karena pas naik wahana itu saya kira ada 2 sabuk pengaman padahal saya Cuma pasang satu, tersugestilah saya bahwa saya pasti akan jatuh kalo rollcoster ini berputar 180 derajat. Alhasil, jantung saya terus berdetak keras….dentuman keras yang tidak pernah saya rasakan hingga dia atas roalcoster tsb. Benar-benar breathaking experience!

Sore harinya saya pulang terlebih dahulu dan masih dalam keadaan syok sepanjang jalan karena wahana halilintar. Saya naik busway yang ternyata halte pemberhentiannya lebih bagus dibandingkan dengan di Jogja (trans Jogja). Apalagi diberi jembatan penyebranagn bagi penumpang. Saya ingat pas itu malam minggu, saya yakin Jakarta bakalan makin macet cet cet…benerlah dugaan itu!sampai di pondok Gede saya melanjutkan naik angkot lewat Pasar Keramat Jati. Busyet dah…tiap menit angkot berhenti. Puas dah saya hirup asap yang bejibun!lagi sekali saya mengutkan diri dalam hati It’s the art of travelling! Baru kali ini saya liat penjual ikan masih buka sampai malam hari sepanjang Pasar Keramat Jati. Lumayan pemandangan yang menarik. Tak jauh dari rumah, saya minta turun dan jalan-jalan sebentar di area Lubang Buaya daripada harus nongkrong kesepian malam minggu dikamar huhu….Jalan-jalan dengan transportasi publik menambah wawasan saya kalau sebutan alat transportasi di Jakarta bermacam-macam, bentuknya juga beranekaragam ada metro mini, bajaj, oplet, angkot, busway, dan ojek. Memang kota ini transportasinya hidup 24 jam!

Oya, saya juga mampir ke Kota Tua di Jakarta, kota yang bangunan-bangunannya sengaja dibiarkan utuh layaknya di masa Batavia dulu. Banyak fotografer yang mengabdikan momen di sini. Esoknya saya main-main ke Taman Mini Indonesia Indah. Sayang, belum terlalu menjelajahi tempat ini karena waktu terbatas!

Datanglah waktu yang sangat mendebarkan. Pasukan Global Exchange yang terdiri dari 10 prajurit ini menjalani medical check up. Lucu juga dengan pakaian pasien rumah sakit keliling ke ruang-ruang tertentu untuk menjalani pemeriksaan. Kalo ga salah bisa sampai 5 ruangan lebih denga pemeriksaan badan dari atas ampe bawah. Baru saya tahu bahwa orang yang tegang tatkala diambir darahnya, maka darah tidak bisa keluar. Bener aja teman saya, si Denis, harus di suntik 5 kali di tempat yang berbeda. Itu pun darah masih saja belum keluar. Padahal saya yang 2 kali suntikan di tangan kri kanan aja rasanya dah minta ampuuuuuuuun. Ini pelajaran berharga! Maka janganlah takut dengan jarum hehehe

Malamnya, kami semua jalan-jalan ke Senayan City, mall di mana brand inernasioanl terpajang di mana-mana. Sambil menyelam minum air! Tak lupa saya mengabadikan momen dengan berfoto ria karena mall ini bersebelahan dengan kantor SCTV dan gedung-gedung elit lainnya. Ini yang paling saya kesalkan!saya paling ga suka namanya jalan-jalan ke mall. Menurut saya, namanya mall pasti sama saja di mana-mana yang ada malah domblong liatin orang belanja karena kere ga ada uang. Terpaksa karena itu satu-satunya tempat terdekat dari wisma yang bisa kami liat-liat. Ya, kami sambangi aja. Yang paling berkesan di mall ini yaitu banyak selebriti seliweran. Yang paling saya senengi yaitu ketemu Vicky Notonegoro ngingetin saya sama siapa gitu huehehehe. Tak lupa kami juga nonton Shrex 3D yang lumayan bagus.

Hari selasa, kami ngurus visa UK di Gedung Bursa Efek Jakarta di Jakpus. Gila aja….antrian lagi-lagi si ular naga panjang. Dengan label negara berkembang seperti ini ternyata animo masyarakat kita ke Inggris banyak juga. Di antara ruang pengurusan visa seperti ke Australia, Malaysia, ruangan tempat kamilah yang paling dipenuhi manusia. Dari pagi mengantri, akhirnya urusan administrasi selesai di sore harinya. Biaya pembuatan visa 1,5 jutaan lebih memegang rekor termahal diantara visa ke negara lainya. Memang Negeri Pangeran Charles ini sangat eksklusif! Sepanjang menjalani urusan Global Xchange di Jakarta. Saya terus-terusan keluar masuk gedung yang menurut versi saya merupakan gedung pencakar langit. Ini sama halnya dengan tour de building! Ini juga pengalaman pertama saya masuk gedung penting tempat kumpulnya ekspatriat dengan penjagaan super ketat dan lantai berpuluh-puluh. Saya udah ngerasa di luar negeri aja dengan para pegawai di dalamnya keluar masuk menggunakan lift dan kartu special untuk memasuki ruangan. Ditambah lagi baik orang lokal maupun orang asing berseliweran dengan jas rapi. Sungguh suasana penuh kompetisi! Kami terus-terusan berada di kantor British Council di lantai 16 yang artinya terus-terusan naik turun lift. Padahal, saya sendiri paling ga tahan dengan teknologi cepat ini. Rasanya seperti naik pesawat terbang membuat perut ga enak. Lebih parah lagi saya yang notabene dari bagian Indonesia yang nun jauh di sana tidak familiar mengoperasikan alat ini karena jarang digunakan. Boro-boro mau naik lift, wong di daerah saya ja gedung tertinggi cuma lantai 3 dan itu pun satu-satunya mall di daerah saya dengan lift (Udik banget ya??:)

Begitu pula dengan pengurusan visa, lagi-lagi harus berurusan dengan gedung-gedung gila ini. Pas itu saya di Abda Plaza, pusatnya tempat pembuatan visa dari beberapa negara. Naik ke lantai 22 dengan pemeriksaan yang ketat juga sebelum masuk. Sepertinya Jakarta belajar dari kisah-kisah bom sebelumnya! Btw, dengan TV di dalam lift terasa enak juga hehe Hal yang sering membuat saya tidak nyaman yaitu toilet yang sok bergaya kebarat-baratan. Mungkin bukan sok si,tapi memang toilet standar internasional. Tapi, sangat menyiksa saya! Di Jogja sering saya temukan toilet seperti itu, andaikan saya bisa memilih saya akan pilih kamar mandi atau WC umum saja. Dengan adanya flush untuk mengguyur dan pancuran untuk cebok si it’s oke, lha kalo toilet yang cebokannya berupa lubang kecil menyatu dengan jambannya kemudian dari lubang itu keluar air untuk membilas bagian sensitif kita, bagi saya, no way! Masih aja kerasa ga bersih, mungkin karena terbiasa dengan gayung dan bak mandi ya? jadi, cebokan bisa sepuasanya hehe. Apa yang di dapatkan sedari kecil sulit untuk melepaskannya! Hal satu ini yang mungkin akan jadi masalah saya tatkala nanti di Inggris. Toilet yang berbeda dengan kebanyakan di Indonesia. I will miss it so!

Masalah fasilitas salat di gedung-gedung tinggi seperti ini ternyata tidak efisien. Kebanyakan mushala berada di lantai paling bawah alias basement. Di mall-mall juga kebanyakan di lantai paling atas atau bawah. Bayangkan, jika kita ada di lantai 22 masak harus ke basement tiap akan salat! Okelah pake lift akan mempercepat langkah, tapi kan enakan kalo di tiap lantai yang berisi puluhan hingga ratusan orang pekerja memilki mushala tersendiri. Waktu tempuh pun bisa dipersingkat. Orang-orang zaman sekarang memang hebat-hebat kalau masalah ibadah??? Ketika semua urusan selesai, kami diajak oleh panitia ke kantor Femina Group. Media massa yang telah menelurkan bayak majalah seperti Femina,Cleo, Reader Digest dan masih banyak lagi. Kami diberi penjelasan seputar proses pembuatan majalah. Yang paling enak dapat majalah gratis! Ga tanggung-tanggung 4 majalah! Lumayan bacaan sepanjang di perjalanan kereta. Kalo di pikir-pikir keberadaan saya di Jakarta benar-benar Tour de Building. Keluar dari satu gedung masuk ke gedung lain! Untungnya ga keluar dari mulut Harimau masuk ke mulut Buaya! Saya nikmati saja kegiatan saya di Jakarta. Tentunya banyak ilmu yang saya dapatkan. Di akhir pertemuan denagn teman-teman, saya melontarkan canda “ingat lo kita tiga hari ini tinggal di wisma Persatuan Keluarga Berencana Indonesia. Artinya kita udah bersedia untuk menjadi keluarga berencana ke depannya hahaha”

Jogja, 9 Juni 2010

BOGOR: LAGI-LAGI TEH TAWAR

Akhirnya impian ke Bogor sampai juga. Selesai menyelesaikan urusan di Jakarta, nggak mau dong langsung pulang. Apalagi dengan status cuti saya dari kuliah yang artinya nggak nerima tugas lagi dari kampus. Rabu malam saya naik kereta ke Bogor dari stasiun Gambir Jakarta. Ngeliat Monas bersebelahan dengan stasiun, saya tak lupa memotretnya karena saya belum sempet main-main langsung ke sana. Saya naik kereta listrik (KRL)Pakuan seharga Rp 11.000. Ada juga kelas di bawahnya dengan tarif lebih murah. Tapi, saya ga mau repot karena bawaan saya ternyata nambah satu ransel. Udah bisa saya tebak, penumpang pasti berjubelan. Walaupun dengan harga tiket lebih mahal, tetep aja penumpang membuat lesehan di dalam kereta saking penuhnya orang pulang kerja dari Jakarta. Sampai-sampai banyak orang yang sengaja dari rumah sudah membawa tempat duduk lipat sehingga tatkala nggak dapet tempat duduk, senjata inilah yang dikeluarkan. Dalam hati, Saya fikr inilah orang-orang yang tahan banting. Pulang pergi kerja Jakarta-Bogor, berangkat pagi, pulang pun malam. Sekitar 1 jam di dalam kereta yang dikatakan tarifnya paling mahal untuk rute ke Bogor. Tapi, masih aja kecoak main petak umpetcdi dalamnya. Tak lama sampai pula saya di stasiun Bogor. Kedatangan saya disambut oleh kakak dengan makanan mie Bangka. Makanan pun tak saya habiskan karena saya masuk angin dan anehnya teh yang saya dapatkan tawar pula. Padahal saya ga pernah memesan teh tawar. Saking kesalnya, saya minta sesegera mungkin pulang ke rumah kakak.

Esoknya, saya main-main ke Puncak BoGor. Sebenarnya inilah alasan utama saya ingin ke Bogor selain mengunjungi kakak ipar yang sedang hamil. Saya penasaran dengan daerah wisata ini karena sering dielu-elukan di setiap berita di televisi, pasalnya selalu macet disaat weekend dimana menjadi alternatif liburan bagi orang jakarta. Berada di atas puncak serasa di atas permadani hijau. Banyak kebun teh di kanan kiri jalan. Sudah tentu udara juga sejuk. Oleh-oleh khas sana juga bertebaran sepanjang jalan. Saya membeli ubi madu yang kalau di oven manisnya minta ampun karena madunya keluar. Sayang saya tidak bisa membeli yang lainya karena keterbatasan budget seperti susu Cimory yang langsung dari peternakannya, lobak asli puncak, puyem yang digantung-gantung ga jelas dan roti unyil yang ukurannya segede upil.

Orang Bogor memliliki citra kuliner yang hebat. Ga kalah dengan Jogja. Hanya saja di Bogor rumah tempat tinggal di jadikan tempat makan dengan dekorasi yang ditambah-tambahkan, sedangkan di Jogja banyak lesehan dan warung yang awalnya dibangun memang untuk berjualan.

Saya baru tahu kalau Taman Safari juga dekat puncak. Pingin rasanya ke sana tapi waktu juga yang tidak mengizinkan. Sepulang dari Puncak, saya mampir sebentar ke Kebun Raya dengan karcis masuk Rp9.500. Murah juga! Ga kuat jalan mengelilingi kebun seluas 47 hektar, sayapun naik mobil yang sudah disediakan. Cukup Rp10.000 saya menghbiskan waktu 20 menitan di atas mobil. Orang Bogor ternyata kreatif juga. Sama dengan orang Indonesia kebanyakan. Pintar membuat mitos yang menurut saya merupakan aspek yang menarik wisatawan, paling tidak membuat banyak orang penasaran benar ga sih. APalagi mitos di kebun raya ini lucu-lucu tapi menyeramkan juga. Bayak pohon yang berukuran besar dan berumur ratusan tahun. Nah, pas itu saya melewati pohon kembar. Eh, kata guidenya kalo salah satu pohonnya sakit maka satunya lagi akan sakit , yang satunya tumbang maka kembarannya akan tumbang juga. Ada lagi pohon jodoh, konon kalau cewek dan cowok bertemu di dekat pohon ini secara tidak sengaja maka mereka akan berjodoh. Tak jauh dari sana ada jembatan merah. Si guide nyosor lagi tuh, kalau ada yang melewati jembatan ini maka mereka akan putus. Ya udah saya mencela aja. Kalau gitu ke depan pohon jodoh aja lagi biar nyambung trus hehe. Di dalam kebun juga ada kubur yang dikeramatkan, ada pula kubur jenderal zaman Belanda yan menjadi tempat syutingnya uji nyali hi…..syereeeeeeeeeem

Sorenya, hari makin gelap saja. Tanda-tanda akan hujan sesuai dengan namanya kota hujan. Sebelum meninggalkan Bogor saya mencicipi kuliner untuk terakhir kalinya. Kali ini saya memesan sop ikan. Dan memaang maknyuus banget deh! Lagi-lagi saya dikeselkan oleh pedagangnya. Saya mendapatkan teh tawar sama seperti pertama kali saya datang. Usut punya usut, ternyata paket makanan di Bogor selalu bersama teh tawar. Andaikan mau teh manis harus bilang teh manis. Jika tidak ya mereka akan memberi kita teh tawar! Pantesan aja temen saya yang Sunda betah banget dengan teh tawar, ternyata minum teh tawar sudah membudaya pisan…….

Backpakeran ke Lombok dengan kocek 100rb aja??sangat2 bisa

GO TO LOMBOK, THE PARADISE OF BEACHES

Ini kali pertama bagiku backpakeran. Sempat merasa takut dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi selama perjalanan. Tapi, cepat-cepat perasaan itu saya hempaskan. Kalau berpikir negatif terus tentunya kita ga akan maju-maju dan ga akan bisa nikmatin bumi pertiwi  dengan 17.000 lebih pulau. Tanggal 6 april 2010 tepatna hari selasa, berbekal kenekatdua cewek pemberani  tentunya dengan perhitungan yang matang, saya dan Denis berangkat menuju Lombok dari Jogja dengan menggunakan kerata api, kapal veri dan dilanjutkan dengan angkot. Berikut saya jelaskan rute perjalanan estafet yang saya tempuh beserta biaya transportasi yang dibutuhkan:

Naek taksi ke Lempuyangan patungan berdua dengan temen sama-sama Rp 9.000. Naik kereta ekonomi Sri Tanjung  Rp 35.000. kereta ini berangkat dari stasiun Lempuyangan, Jogja. Karena keberangkatan kereta berawal dari stasiun ini, maka dapat dipastikan saya bisa memilih tempat duduk yang saya inginkan hehe. Kereta berangkat jam 7.30 dan saat itu saya sampai di stasiun banyuwangi jam 00.30 (14-16 jam). perjalanan ini sangat panjang karena kereta banyak berhenti di stasiun-stasiun sepanjang jogja-jateng-Jatim. karena ini kereta ekonomi udah bisa terbayang bagaimana rame dan panasanya kereta

Sampai di stasiun banyuwangi yang merupakan stasiun pemberhentian terakhir horor tiada tara. Tak ada satu pun cewek yang tersisa kecuali kamilah orang yang tercantik hehe. Karena stasiun udah sepi dan hanya kaum adam,kamipun memasang langkah seribu menuju pelabuhan ketapang yang berjarak 100 meter dari stasiun. So, pas keluar dari stasiun, jalan aja lurus sampai ketemu jalan raya, ntar belok kanan dan pelabuhan ada di kiri jalan. Tiket penyebrangan yang saya dapatkan berupa kartu yang hanya ditempelkan pada tanda panah yang tersedia. Sangat otomatis bukan? Tiket yang saya bayar Rp 5700 untuk penyebrangn makslimal 1 jam. Untung ada kapal yang sudah berlabuh, jadi saya tinggal naik saja tanpa menunggu. Katanya petugas pelabuhan kapal berlabuh tiap jam. So dont worry ga dapet kapal. Paling banter ya menunggu he…..

Jam 2.30 dinihari saya sampai di pelabuhan Gilimanuk, Bali. Tak jauh dari sana ada terminal. Gila cewek jam segini masih berkeliaran. Di terminal saya harus menunggu stengah jam hingga pak sopir melajukan angkotnya jam 3. Adegan tawar menawarpun didengungkan. Ya sok-sok aksen bali biar dimurahi he. Akhirnya dapat seharga Rp 35.000 perjalanan dari pelabuhan Gilimanuk-pelabuhan Padangbai (kalo orangnya lebih banyak bisa dapet Rp 30.000). Nama angkotnya Lintas samudera, ada juga Putra jaya dengan rute yang sama.  Angkot singgah di terminal semarapura jam 8.15 untuk ganti angkot baru (ukurannya lebih kecil). Penumpang tidak perlu membayar lagi pas ganti angkot.

Nyampe di Padangbai jam 9 pagi. Lanjut lagi nyebrang ke pelabuhan lembar, Lombok, kira-kira 4-5 jam. Ongkos Rp 31.000.Siap-siap bawa popmie untuk mngurangi rasa enek karena angin di atas kapal. Tinggal beli air panas di kapal Rp 1000-3000. Usahakan bawa snack sendiri karena baik di kereta maupun kapal harga bisa menjadi dua kali lipatnya. Sampai di pelabuhan Lembar, Lombok jam 2 siang. Akhirna disana minta jemputan.

So, total biaya transportasi perjalanan Jogja-Lombok Rp9.000+35.000+35.000+5.700+31.000= Rp 115.700

GO HOME TO JOGJA

Sy cabut dari Lombok hari selasa, 13 April karena harus mengejar suatu acara di Jogja tanggal 15. Dengan anteran gratis jam 9 pagi sy udah standby di pelabuhan lembar hendak ke Padang Bai.Tiket nyebrang  Rp 31.000. Jam 2 siang sampai di Padang Bai langsung sy mencari angkot dekat dengan pelabuhan menuju ke terminal Ubung, Denpasar. Saran sy disini hati-hati dengan orang-orang yang hendak bopong kamu ke angkot. Pengalaman ga enak sy tatkala seorang bli (sebutan buat mas di Bali) yg sudah buntutin sy sejak turun kapal nawarin ke terminal Ubung. Dia bener2 ga mau ngelepasin sy naik ke angkot yang lain. Dia minta Rp40.000, jelaslah sy nolak wong yang lebih jauh aja Gilimanuk-Padang bai sy bayar Rp35.000 sebelumnya. Debatlah kami menawar harga semurah-murahnya. Inilah tantangan seorang backpaker (backpaker atau kehabisan uang sebenarnya hehe). Akhirnya sy dapet harga Rp25.000, yang lainnya bayar Rp40.000 hihi. sy sampai di terminal Ubung jam 4 sore karena jalanan macet.

Sy sengaja menginap di rumah teman di Nusa dua karena harus mengejar kereta di Banyuwangi yang setahu sy berangkat jam 7 malam. Esoknya sy kembali ke terminal Ubung menuju ke Gilimanuk, bayar angkot Rp 20.000. Terus beli Tiket penyebrangan Rp 5.700. Empat puluh lima menit nyebrang ke Ketapang dan jalan sekitar 200 meter sampailah sy di stasiun Banyuwangi. Informasi dari temen yg udah pakai kereta yang sama dengan sy bahwa kereta Sritanjung berangkat jam 7 malam. Hal ini diperkuat juga dengan jadwal yg sy liat di stasiun Lempuyangan. Ga tahunya setelah liat papan jadwal keberangkatan di sana, betapa terkejutnya sy ngeliat keberangkatan kereta jam 6 pagi. Langsung sy tanya petugas denagn sedikit berdebat  kok bisa jadwal berubah gini sampai-sampai temen sy bela-belain nelpon temennya yang sebelumnya berangkat dari banyuwangi jam 7 malam sebagai saksi untuk ngomong langsung ke petugas kereta. Malang tak dapat ditebak, sy harus nginap semalam di Banyuwangi.Oh no…….!!!!ini kejadian diluar perkiraan. Sy bingung mau nginep dimana, udah duit menipis dan di sana nggak punya sapa-sapa yang bisa diandalkan. Pikiran ini dah melayang kemana-mana masak mau nginep di stasiun yang sepi begitu bisa2 sy ga bisa pulang nantinya hikz….(teringat pas nyampe distasiun banyuwangi jam 12 malam, hanya ada kaum adam). Melangkahlah kaki ini ke masjid,kebetulan ada masjid gede pinggir jalan. Dalam hati sy yakin pasti diizinin nginep di sana wong masjid setajir gini hehe. Tapi nyatanya takmir masjid mentah2 nolak kami bermalam di serambina. Alhasil, tanya sana sini akhirnya sy sampai di mushala deket pelabuhan Ketapang. Disitulah sy berencana nginap sampai akhirna ada nenek2 yang kasian ngeliat sy berdua (tepatnnya ada 4 org btuh tumpangan)tidur-tiduran di mushala. Mungkin ini malaikat yang dikirimkan Tuhan hingga kami semua akhirna menginap di rumahnya. Dirumah sang nenek tetep aja ga bisa tidur, bentar2 terbangun berharap subuh cepat datang biar kami bisa langsung ke stasiun. Sumpah….baru kali itu sy rasakan waktu bgtu lama, setiap satu jam sy terbangun dan mananyakan ke temen sy udh jam 6 apa belum saking khawatir dengan apapun yg bs terjadi sEcara sy ga kenal ni nenek mana rumahnya dipinggir pelabuhan yang rame banget orang seliweran ke sana ke mari.

Mimpi buruk segera berlalu .Akhirnya jam 6 sy sudah di dalam kereta. Tetep kok harganya Rp 35.000. Sampai di Jogja sekitar jam 20.30. Di Lempuyangan minta dijemput deh asyik…….

Perjalanan balik ke Jogja lebih mahal daripada ke Lombok karena saya naik angkot dua kali di Bali alias tidak menggunakan angkot langsung dari Padangbai-Gilimanuk

Total biaya transport Lombok-Jogja Rp 31.000+Rp 25.000+Rp20.000+Rp 5.700+ Rp 35.000=Rp 116.700

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!